Warga Dusun Bringin, Kedungrejo, Genengan Barat dan Timur melakukan upacara adat nyadran setiap setahun sekali. Biasanya dilakukan pada pertengahan tahun untuk menghormati para leluhur dan mengungkapkan rasa syukur. Nyadran ini sudah dilakukan turun-temurun sejak zaman penjajahan. Tahun ini, nyadran dilakukan kemarin pada 10 Agustus 2020. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, nyadran kali ini warga kenakan masker, mengingat masih adanya pandemi COVID-19.

Sejak pagi, nyadran diawali dengan menguras sendang. Pengurasan sendang ini terbilang unik karena jika ada orang yang terlihat belum kotor atau terkena lumpur tanpa memberikan memberikan sesuatu seperti makanan, kopi dan lain sebagainya, warga tersebut akan dikejar kemudian dilumuri lumpur tanpa pandang bulu. Pengurasan diperbolehkan untuk semua masyarakat yang ingin mengikuti. Biasanya mengutamakan anak-anak muda, agar tetap terlestarikannya budaya ini. Menjelang siang sekitar pukul 10.00 WIB warga mulai berkumpul dengan membawa berkat dan dikumpulkan menjadi satu. Mulai dari anak-anak hingga orangtua turut menghadiri nyadran ini.

Seraya menunggu kedatangan warga dari berbagai dusun, warga yang sudah sampai melakukan ziarah secara sendiri-sendiri di makam leluhur Desa Bringin. Kepercayaan dikabulkannya doa masih terbilang cukup kuat. Sehingga ziarah sebelum doa bersama seperti ini biasanya banyak dilakukan juga oleh masyarakat dari luar Desa Bringin. Sekitar pukul 11.00 WIB, perangkat desa nyekar dan dilanjutkan doa bersama. Nyadran ditutup dengan pembagian berkat. Nyadran ini dilakukan secara bergantian, minggu ini juga akan dilakukan di Dusun Nampu yaitu di Sendang Kadilengan.

Melalui upacara adat berupa nyadran ini, diharapkan rasa kekeluargaan dan kerukunan Desa Bringin tetap terjaga dan tetap dilestarikan hingga ke genrasi selanjutnya.